The Time to Live and the Time to Die: Perjalanan Hidup Mengharukan Sutradara Paling Berpengaruh di Dunia

asian
2016-05-18 11:12:16
The Time to Live and the Time to Die: Perjalanan Hidup Mengharukan Sutradara Paling Berpengaruh di Dunia

Perjalanan hidup seseorang memang asyik untuk disimak. Tapi ini bukan ngomongin timeline media social ya, Superfans.

Berjudul The Time to Live and the Time to Die, film ini menceritakan periode kehidupan Hou Hsiao-Hsien. Dia bukan siapa-siapa, cuma orang biasa, dan bukan orang terkenal pada masanya. Lho, kenapa kehidupannya difilmkan?

Ternyata, Hou Hsiao-Hsien adalah sutradara sekaligus penulis film ini lho, Superfans. Jadi bisa dibilang, lewat film The Time to Live and the Time to Die, dia ingin menceritakan perjalanan hidupnya dari semakin kecil hingga dewasa, mulai dari tahun 1947 sampai 1965.  Film ini sendiri merupakan bagian dari trilogi yang yang mulai dengan A Summer at Granpa's dan diakhiri dengan Dust in the Wind.

Nah, memang sih saat itu Hsiao bukan siapa-siapa, tapi bukan berarti kehidupannya nggak asyik buat disimak. Apalagi sepanjang durasi intrik keluarga yang ditampilkan sanggup bikin mata kamu berkaca-kaca deh karena saking sedihnya, Superfans.

Jadi, dalam film ini ceritanya Hsiao bersama orang tua, nenek, bibi, dan tiga saudaranya harus meninggalkan kampung halamannya. Mereka tinggal di sebuah kota untuk mengadu nasib.

Karena biasa hidup sederhana, keluarga Hsiao merasa tertekan dengan lingkungan barunya. Apalagi kehidupan masyarakat sekitarnya yang terbilang moderen sangat bertentangan sama gaya hidup mereka yang tradisional banget. Saking nggak betahnya sang nenek tiap hari merajuk minta balik lagi ke kampung halaman.

Pas menginjak usia remaja, Hsiao mulai terbawa gaya hidup urakan. Dia bergabung sama geng jalanan dan hidupnya berantakan. Konflik semakin tajam karena dia harus memilih hidup sebagai anak geng atau melanjutkan kuliah demi masa depannya.

Dirilis tahun 1985, Hsiao yang awalnya dikenal sebagai screenwriter ini membuat film The Time to Live and the Time to Die nggak sekedar ajang narsis pribadi. Saking seriusnya memproduksi film ini, beberapa penghargaan internasional dari Berlin International Film Festival, Rotterdam International Film Festival dan Kinme Junpo Award berhasil didapatkan.

Hsiao sendiri saat ini dikenal sebagai salah satu sineas paling berpengaruh di Taiwan dan China. Selain itu, dia juga pernah didaulat menjadi "Director of the Decade" oleh para kritikus film di Amerika sekitar tahun 90-an. Beberapa film terbaiknya selain The Time to Live and the Time to Die adalah The Village Voice, Film Comment, dan A City of Sadness. Bahkan baru-baru ini berkat film The Assassin, dia berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Best Director di ajang Cannes Film Festival 2015.

Gimana? Keren banget kan perjalanan hidup Hsiao? Makanya nggak salah dong, kalo The Time to Live and the Time to Die dihadirkan di Tribe. Nggak perlu menunggu jadwalnya, kamu bisa nonton kapan aja dan di mana aja kok, Superfans. Yuk, download aplikasi ini di sini sekarang!

YUK GABUNG DI TRIBE INDONESIA!

Tonton semua acara favoritmu kapan dan di mana aja kamu mau.

download tribe sekarang dan nikmati acara-acara terbaru sekarang juga!

Tayang di Hari yang Sama

TAYANG DI HARI YANG SAMA

Tonton semua acara favoritmu di hari yang sama dengan tanggal tayang di negara asalnya

Subtitle Indonesia

SUBTITLE INDONESIA

Nggak perlu bingung kalo nonton film atau acara berbahasa asing, karena subtitle Bahasa Indonesia di Tribe sudah bagus

Tonton Kapan Aja

TONTON
KAPAN AJA

Nggak sempet nonton live? Jangan khawatir, kamu bisa nonton kapan aja, kamu mau

Download sekarang! Gratis

Eksklusif untuk pelanggan XL!